Jumat, 26 September 2014

Puisi Sabtu pagi

mendengar alunan itu, 
seperti ku terayun pelan akan Lamunan..

masih ku ingat dalam saat, 
hangat merasuk rongga dada...
masih tersirat beberapa sebab, 
ku menyayangimu apa adanya...

saat pagi berembun, 
dingin dan lembab,
kuingat canda ketika tawa dan senyum berhias sesaat,
beberapa saat, hanya sesaat,

sesaat, 
Hingga ku terdiam hingga kini...
kosong dan sepi,

hingga kini,
Lamunan ku berujung dalam puisi sabtu pagi..

raut langit tak juga berubah,
selalu terlihat sedih disisi ini,
seakan tak terjamah senyum mentari,
Hingga Kini,

seperti hati ini,
dermaga lembab dan sepi, 
seperti hari ini,
di sabtu pagi..dengan alunan kicau bersama tari,

ku sadar hingga kini,
sepertinya dunia, hanya aku yang merana..
kulihat semua ceria,
kulihat bahagia semua fana,
seperti bunga, hewan, dan manusia..

lantas aku bertanya, apa itu kesedihan?
mereka membalas dengan riang,
aku tersnyum,
sabtu pagi dalam Lamunan,


Sebenarnya jika kalian pikirkan benar-benar. Apa yang membuat kalian jatuh bersedih? Apa kalian merasa perlu untuk bersedih? Sepenting apakah itu? Lebih pentingkah dari senyum bahagia orang-orang yang kalian sayang?

Setiap kita, memiliki hak untuk bersedih, tapi kita juga berhak untuk bahagia. Jangan lupa, Something happen for a reason. Dan kita yang berkewajiban mencari tahu, apakah arti kita dalam hal ini. Pertanyaanya sekarang hanyalah, "Mampukah kau menjalani ini semua? Mampukah kau menghadapi ini semua? Seberapa lemah kau?".

Aku rasa Tuhan tidak menciptaptakan kita sebagai makhluk yang lemah. Dan Tuhan bukanlah Dzat yang kejam. Ingat seberapa sayang Dia terhadap kita, adalah ketika seberapa sering Dia memberikan ujian terhadap kita. Dan seberapa sayang kita terhadap-Nya, adalah ketika seberapa sering kita menghadapi ujian-Nya.

"Not something good happens to make you smile , but your smile that makes something good happens." -Seorang Kawancut-

Sabtu Pagi dalam Lamunan. Menjadi rupawan dalam bayang. 

Rabu, 24 September 2014

Apa aja deh mbloo

      Kata, kata dalah sebuah sebuah dasar dalam ucapan. Kata bisa menjadi indah atau buruk, tergantung bagaimana cara kita mengucapkan. Ini seperti sebuah bahan masakan, masakan adalah olahan bumbu dan bahan-bahan inti pada masakan itu. Sedap atau tidak, itu tergantung seperti apa kita mengolahnya, benar, tepat atau tidak kita mengkomposisikan bumbu, tepat atau tidak kita membuat adonan, serta tepat atau tidak waktu kita memasukkan bahan satu dan yang lain.
Seperti halnya kata, mereka juga akan indah jika kita menempatkan tambahan hiasan yang tepat pula.

Katakan pada bulan, bahwa aku jatuh hati pada serigalanya...
Katakan pada matahari, hatiku takluk pada singanya,

Ku katakan padamu, ragaku roboh olehmu,
Angkuhmu begitu, tak bisa hingga membisu...
Kau tutup pendengaranmu, kau buta terhadapku,

Tidak bisakah kau tatapku sekejap?
Tak bisakah katakanku sekecap?
Tak bisa kau dengar sesaat?

Karenamu, puisiku pun tak terdengar indah seperti dulu...
               
      Kembali lagi menulis, bukan untuk menjadi seseorang yang merasa pintar dalam hal menulis. Karena obsesi. Bukan, bukan obesitas, gue aja kurus kering. Mungkin kalian akan bingung, sebenarnya nih orang nulis apaan? Ga jelas, dan sok puitis.
      Jawabanya singkat : karena emang gue orang yang cerewet, dan suka cerita ama orang lain.
      Tapi orang udah ga peduli deh, gue mau cerita apa. Ga bakal ada yang betah dengan orang cerewet kaya gue. Kecuali jika dia sahabat terbaik gue. Aneh ga sih? Sahabat? Sahabat adalah teman terbaik. Lantas, jika sahabat yang artinya teman terbaik ini di tambah lagi penekanan pada kata terbaik. Lagi. Dan artinya dia adalah orang yang akan menerima gue apa adanya.
      Gue punya banyak temen baik, banyak. Jika kalian bayangin temen-temen baik gue adalah orang yang cuman istilah “say hello” doang. Kalian salah. Mereka orang-orang yang dipilih Tuhan, Sang Maha Pencipta. untuk berada dalam tali takdir gue. Melakukan hal bersama dan tetap dalam tali takdir hingga kini.
      Dan anggap saja kalian paham, kalo gue juga punya sahabat terbaik. Namanya ga perlu disebutin sih, kebanyakan temen gue cowok dengan nama ke cewek-cewek an. Tapi asli, mereka gentle tanpa ada tanda distorsi pada sifat laki mereka. Serius.
      Tapi kali ini gue ga bahas temen-temen gue. Termasuk aib-aib mereka. Ada yang suka ngupil, ada yang suka dandan, ke salon, hang out, nongkrong di Mall. Itu bukan temen gue banget, kecuali bagian upilnya. Nongkrong mereka tuh di mesjid bro, serius. Ya biasalah, ngaji, dzikir, meni pedi, luluran, nyalon, make up, sulam alis, ngeritingin bulu ketiak, cabutin bulu kaki. Bzzzzzz....
      Di bilang gue suka banget cerita. Entah kenapa tangan gue ga mau berhenti nulis. Nih kan tetep aja nulis. Oh God...!!
      Setelah... anggap aja tahun lalu. Gue kerja di sebuah perusahaan dengan label Mold maker, sekarang perusahaan trafo factory, dan akan menjadi sebuah perusahaan pembuat trafo terbaik sedunia. Tapi naas nya gue masih belum ngeh dengan pekerjaan gue. Menjadi apa dan di bagian apa gue sekarang. Yah, yah.. gue kerjain apa aa yang bisa gue kerjain, gue belajar apaa yang ingin gue pelajari. Belajar dan di gaji, seperi itulah gue sekarang. Dan jika seseorang tanya “mau nerusin kuliah ga mas?”. Gue cuman bisa bilang” selama bisa saya pelajari secara otodidak, ga perlu lah kuliah.”
      Lagian kuliah mahal bro, bukan cuman sekolah aja yang diperlukan, keahlian juga. Gue cuman masih bingung, belajar arsitektur dan sipil secara otodidak itu susah bro. Ga kaya sotosop, pemograman, Ms Word, ecxel, dll... jadi gue masi berusaha membaca sebanyak-banyaknya apa yang ada, download apa aja yang dibutuhin. Dan berusaha mencari tau fakta dibalik sebuah kontruksi. Ga tanggung – tanggung, gue baca buku-buku arsitektur berbahasa Inggris. Biar greget pusingnya.


                Sekian dari gue. Ga mutu kan postingan gue, nah itu lah masalahnya...