Kata,
kata dalah sebuah sebuah dasar dalam ucapan. Kata bisa menjadi indah atau
buruk, tergantung bagaimana cara kita mengucapkan. Ini seperti sebuah bahan
masakan, masakan adalah olahan bumbu dan bahan-bahan inti pada masakan itu. Sedap
atau tidak, itu tergantung seperti apa kita mengolahnya, benar, tepat atau
tidak kita mengkomposisikan bumbu, tepat atau tidak kita membuat adonan, serta
tepat atau tidak waktu kita memasukkan bahan satu dan yang lain.
Seperti halnya kata, mereka juga
akan indah jika kita menempatkan tambahan hiasan yang tepat pula.
Katakan pada bulan, bahwa aku jatuh hati pada serigalanya...
Katakan pada matahari, hatiku
takluk pada singanya,
Ku katakan padamu, ragaku roboh
olehmu,
Angkuhmu begitu, tak bisa hingga
membisu...
Kau tutup pendengaranmu, kau buta
terhadapku,
Tidak bisakah kau tatapku sekejap?
Tak bisakah katakanku sekecap?
Tak bisa kau dengar sesaat?
Karenamu, puisiku pun tak terdengar
indah seperti dulu...
Kembali
lagi menulis, bukan untuk menjadi seseorang yang merasa pintar dalam hal
menulis. Karena obsesi. Bukan, bukan obesitas, gue aja kurus kering. Mungkin kalian
akan bingung, sebenarnya nih orang nulis apaan? Ga jelas, dan sok puitis.
Jawabanya
singkat : karena emang gue orang yang
cerewet, dan suka cerita ama orang lain.
Tapi
orang udah ga peduli deh, gue mau cerita apa. Ga bakal ada yang betah dengan
orang cerewet kaya gue. Kecuali jika dia sahabat terbaik gue. Aneh ga sih? Sahabat?
Sahabat adalah teman terbaik. Lantas, jika sahabat yang artinya teman terbaik
ini di tambah lagi penekanan pada kata terbaik. Lagi. Dan artinya dia adalah
orang yang akan menerima gue apa adanya.
Gue
punya banyak temen baik, banyak. Jika kalian bayangin temen-temen baik gue
adalah orang yang cuman istilah “say hello” doang. Kalian salah. Mereka orang-orang
yang dipilih Tuhan, Sang Maha Pencipta. untuk berada dalam tali takdir gue. Melakukan
hal bersama dan tetap dalam tali takdir hingga kini.
Dan
anggap saja kalian paham, kalo gue juga punya sahabat terbaik. Namanya ga perlu
disebutin sih, kebanyakan temen gue cowok dengan nama ke cewek-cewek an. Tapi asli,
mereka gentle tanpa ada tanda distorsi pada sifat laki mereka. Serius.
Tapi
kali ini gue ga bahas temen-temen gue. Termasuk aib-aib mereka. Ada yang suka
ngupil, ada yang suka dandan, ke salon, hang out, nongkrong di Mall. Itu bukan
temen gue banget, kecuali bagian upilnya. Nongkrong mereka tuh di mesjid bro,
serius. Ya biasalah, ngaji, dzikir, meni pedi, luluran, nyalon, make up, sulam
alis, ngeritingin bulu ketiak, cabutin bulu kaki. Bzzzzzz....
Di
bilang gue suka banget cerita. Entah kenapa tangan gue ga mau berhenti nulis. Nih
kan tetep aja nulis. Oh God...!!
Setelah...
anggap aja tahun lalu. Gue kerja di sebuah perusahaan dengan label Mold maker,
sekarang perusahaan trafo factory, dan akan menjadi sebuah perusahaan pembuat
trafo terbaik sedunia. Tapi naas nya gue masih belum ngeh dengan pekerjaan gue. Menjadi apa dan di bagian apa gue
sekarang. Yah, yah.. gue kerjain apa aa yang bisa gue kerjain, gue belajar apaa
yang ingin gue pelajari. Belajar dan di gaji, seperi itulah gue sekarang. Dan jika
seseorang tanya “mau nerusin kuliah ga mas?”. Gue cuman bisa bilang” selama
bisa saya pelajari secara otodidak, ga perlu lah kuliah.”
Lagian
kuliah mahal bro, bukan cuman sekolah aja yang diperlukan, keahlian juga. Gue cuman
masih bingung, belajar arsitektur dan sipil secara otodidak itu susah bro. Ga kaya
sotosop, pemograman, Ms Word, ecxel, dll... jadi gue masi berusaha membaca
sebanyak-banyaknya apa yang ada, download apa aja yang dibutuhin. Dan berusaha
mencari tau fakta dibalik sebuah kontruksi. Ga tanggung – tanggung, gue baca
buku-buku arsitektur berbahasa Inggris. Biar greget pusingnya.
Sekian
dari gue. Ga mutu kan postingan gue, nah itu lah masalahnya...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar