seperti ku terayun pelan akan Lamunan..
masih ku ingat dalam saat,
hangat merasuk rongga dada...
masih tersirat beberapa sebab,
ku menyayangimu apa adanya...
saat pagi berembun,
dingin dan lembab,
kuingat canda ketika tawa dan senyum berhias sesaat,
beberapa saat, hanya sesaat,
sesaat,
Hingga ku terdiam hingga kini...
kosong dan sepi,
hingga kini,
Lamunan ku berujung dalam puisi sabtu pagi..
raut langit tak juga berubah,
selalu terlihat sedih disisi ini,
seakan tak terjamah senyum mentari,
Hingga Kini,
seperti hati ini,
dermaga lembab dan sepi,
seperti hari ini,
di sabtu pagi..dengan alunan kicau bersama tari,
ku sadar hingga kini,
sepertinya dunia, hanya aku yang merana..
kulihat semua ceria,
kulihat bahagia semua fana,
seperti bunga, hewan, dan manusia..
lantas aku bertanya, apa itu kesedihan?
mereka membalas dengan riang,
aku tersnyum,
sabtu pagi dalam Lamunan,
Sebenarnya jika kalian pikirkan benar-benar. Apa yang membuat kalian jatuh bersedih? Apa kalian merasa perlu untuk bersedih? Sepenting apakah itu? Lebih pentingkah dari senyum bahagia orang-orang yang kalian sayang?
Setiap kita, memiliki hak untuk bersedih, tapi kita juga berhak untuk bahagia. Jangan lupa, Something happen for a reason. Dan kita yang berkewajiban mencari tahu, apakah arti kita dalam hal ini. Pertanyaanya sekarang hanyalah, "Mampukah kau menjalani ini semua? Mampukah kau menghadapi ini semua? Seberapa lemah kau?".
Aku rasa Tuhan tidak menciptaptakan kita sebagai makhluk yang lemah. Dan Tuhan bukanlah Dzat yang kejam. Ingat seberapa sayang Dia terhadap kita, adalah ketika seberapa sering Dia memberikan ujian terhadap kita. Dan seberapa sayang kita terhadap-Nya, adalah ketika seberapa sering kita menghadapi ujian-Nya.
"Not something good happens to make you smile , but your smile that makes something good happens." -Seorang Kawancut-
Sabtu Pagi dalam Lamunan. Menjadi rupawan dalam bayang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar