Tak terasa gelap pun jatuh,
Di ujung malam, menuju pagi yang
dingin,
Hanya
ada sedikit bintang malam ini, mungkin karena kau sedang cantik- cantiknya...
Alunan
Jazzy memenuhi ruang pendengaranku. Menghanyutkan
dalam damai dan tenang.
Berjalan
menyusuri setapak dengan kaki kurus dan lemah. Tujuh hari, kaki ini menempuh
berkilo-kilo jalan berpaving hingga lumpur berbau busuk. Terlihat gulungan
celana ini sudah penuh dengan debu dan lekatan coklat menghitam karena tak
tersentuh busa deterjen dan air. Dan badanku, sudah terasa lengket. Pun dengan
baju dan jaket berbahan jeans yang ku
kenakan.
Beristirahat?
Tidak menurutku. Istirahat hanya membuatku tenang, dan kilasan-kilasan itu akan
kembali menerkamku dalam lamunan. Yah, hanya berjalan, hanya berjalan. Aku akan
lari dari itu semua, bayangan merah itu.
Tak
terdengar lagi lagu-lagu Payung Teduh,
yang sepertinya baru tadi menemaniku. Dahiku berkerut, aku mulai sebal dengan
semua ini. Ayah, ibu, saudaraku. Dan sekarang sebuah benda pemutar mp3 juga
akan pergi dariku. Ku cabut sepasang earphone
pada telingaku. Dan tangaku tanpa sadar memasukkannya ke dalam kantong
celana. Aku terdiam.
Terasa
sangat kotor tanganku, sepertinya sudah kering. Beberapa waktu lalu kurasakan
benda cair lengket memenuhi kantong ini. Hanya tersisa baunya. Walau ku coba
masuk dalam sungai, baunya tidak hilang. Hanya perasaanku, atau memang tidak
akan pernah hilang. Bau anyir itu, sepintas seperti melihat seringai mereka. Aku
takut, benar-benar takut.
Langkahku
berhenti, sebuah warung. Ku coba secepatnya untuk melangkah lagi. Sebuah roti
dan air mineral dingin, ku acuhkan uang kembalian yang seharunya menjadi
hak-ku. Apa peduliku. Sepertinya tidak ada lagi hak untukku, setelah aku
renggut dengan paksa hak mereka. Dan aku begitu saja lari dari kewajibanku.
Senja
dengan butiran cahaya berwarna emas. Angin sepoi dan teduh. Seharusnya aku
berada disana, di loteng. Bersama buku-buku ku. Dan alunan musik itu. Seharusnya
aku merasakan kenyamanan itu. Seharusnya...
Bahkan,
suasana seperti ini, aku sangat ingin merasakannya. Seharusnya begitu damai,
seharusnya...
Tapi,
seperti hari-hariku akan dipenuhi ketidak nyamanan. Kedamaian itu seperti
lenyap dan bahkan menjadi pisau yang menyayat leherku. Tapi, seperti
musik-musik itu akan memekakkan telingaku hingga berdarah, darah....
Aku
akan terus berjalan, meskipun ini adalah hal terakhir yang bisa kulakukan. Jika
bisa, aku akan berlari. Aku sudah melakukannya, kakiku terkilir karena itu. Di hari
pertama, aku berlari tanpa henti. Kukira itu hanya bengkak biasa. Tapi, di hari
kedua itu membuat jalanku tertatih.
Kumandang
adzan. Terdengar merdu. Tapi, mungkin aku tidak layak mendengarnya. Suara terakhir
yang kunikmati hanyalah rintihan dan jeritan. Dan seperti itu lah seharusnya
aku nanti. Seperti itulah aku nanti mati.
Aku
rindu mereka, orang tuaku. Aku rindu mereka, adik-adik kecil ku. Melihat senyum
mereka, tawa mereka. Aku menngingat itu. Aku mengingatnya. Ah, bohong! Rasa bersalah
itu menghapus keyakinanku, ingatanku kembali terisi tentang bayangan merah itu.
Aku berteriak! Aku menangis, aku tertawa!. Kini satu-satunya yang ku ingat
hanyalah wajah mereka tergeletak bersama kepala yang terpisah dari leher
mereka. Akulah yang melakukannya. Akulah
orang itu. Akulah pembunuh itu... aku bahkan tidak sadar, aku bahkan menikmati
itu. Sejak kapan psikopat menjadi karakterku. Sejak kapan?
Jika
bisa, satu-satunya yang ingin ku bunuh adalah kau, psikopat!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar