Jumat, 07 November 2014

Bayang kecil dibalik semuanya...

      Tak terasa gelap pun jatuh,
            Di ujung malam, menuju pagi yang dingin,
Hanya ada sedikit bintang malam ini, mungkin karena kau sedang cantik- cantiknya...
            

            Alunan Jazzy memenuhi ruang pendengaranku. Menghanyutkan dalam damai dan tenang.
            Berjalan menyusuri setapak dengan kaki kurus dan lemah. Tujuh hari, kaki ini menempuh berkilo-kilo jalan berpaving hingga lumpur berbau busuk. Terlihat gulungan celana ini sudah penuh dengan debu dan lekatan coklat menghitam karena tak tersentuh busa deterjen dan air. Dan badanku, sudah terasa lengket. Pun dengan baju dan jaket berbahan jeans yang ku kenakan.
            Beristirahat? Tidak menurutku. Istirahat hanya membuatku tenang, dan kilasan-kilasan itu akan kembali menerkamku dalam lamunan. Yah, hanya berjalan, hanya berjalan. Aku akan lari dari itu semua, bayangan merah itu.
            Tak terdengar lagi lagu-lagu Payung Teduh, yang sepertinya baru tadi menemaniku. Dahiku berkerut, aku mulai sebal dengan semua ini. Ayah, ibu, saudaraku. Dan sekarang sebuah benda pemutar mp3 juga akan pergi dariku. Ku cabut sepasang earphone pada telingaku. Dan tangaku tanpa sadar memasukkannya ke dalam kantong celana. Aku terdiam.
            Terasa sangat kotor tanganku, sepertinya sudah kering. Beberapa waktu lalu kurasakan benda cair lengket memenuhi kantong ini. Hanya tersisa baunya. Walau ku coba masuk dalam sungai, baunya tidak hilang. Hanya perasaanku, atau memang tidak akan pernah hilang. Bau anyir itu, sepintas seperti melihat seringai mereka. Aku takut, benar-benar takut.
            Langkahku berhenti, sebuah warung. Ku coba secepatnya untuk melangkah lagi. Sebuah roti dan air mineral dingin, ku acuhkan uang kembalian yang seharunya menjadi hak-ku. Apa peduliku. Sepertinya tidak ada lagi hak untukku, setelah aku renggut dengan paksa hak mereka. Dan aku begitu saja lari dari kewajibanku.
            Senja dengan butiran cahaya berwarna emas. Angin sepoi dan teduh. Seharusnya aku berada disana, di loteng. Bersama buku-buku ku. Dan alunan musik itu. Seharusnya aku merasakan kenyamanan itu. Seharusnya...
            Bahkan, suasana seperti ini, aku sangat ingin merasakannya. Seharusnya begitu damai, seharusnya...
            Tapi, seperti hari-hariku akan dipenuhi ketidak nyamanan. Kedamaian itu seperti lenyap dan bahkan menjadi pisau yang menyayat leherku. Tapi, seperti musik-musik itu akan memekakkan telingaku hingga berdarah, darah....
            Aku akan terus berjalan, meskipun ini adalah hal terakhir yang bisa kulakukan. Jika bisa, aku akan berlari. Aku sudah melakukannya, kakiku terkilir karena itu. Di hari pertama, aku berlari tanpa henti. Kukira itu hanya bengkak biasa. Tapi, di hari kedua itu membuat jalanku tertatih.
            Kumandang adzan. Terdengar merdu. Tapi, mungkin aku tidak layak mendengarnya. Suara terakhir yang kunikmati hanyalah rintihan dan jeritan. Dan seperti itu lah seharusnya aku nanti. Seperti itulah aku nanti mati.
            Aku rindu mereka, orang tuaku. Aku rindu mereka, adik-adik kecil ku. Melihat senyum mereka, tawa mereka. Aku menngingat itu. Aku mengingatnya. Ah, bohong! Rasa bersalah itu menghapus keyakinanku, ingatanku kembali terisi tentang bayangan merah itu. Aku berteriak! Aku menangis, aku tertawa!. Kini satu-satunya yang ku ingat hanyalah wajah mereka tergeletak bersama kepala yang terpisah dari leher mereka.  Akulah yang melakukannya. Akulah orang itu. Akulah pembunuh itu... aku bahkan tidak sadar, aku bahkan menikmati itu. Sejak kapan psikopat menjadi karakterku. Sejak kapan?

            Jika bisa, satu-satunya yang ingin ku bunuh adalah kau, psikopat!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar