Selasa, 14 Oktober 2014

Simple Ending



Kulihat merah pipimu,
dan basah oleh air mata.
kulihat tatapanmu,
menerawang jauh kesana...

Bukankah kau memanggilku,
bukankah aku disini?
bukankah untuk menghiburmu,
mengharap ku disisi.

kini bulan mengusik mentari, 
seperti ku yang tak bisa benahi.
semburat emasnya membawa bayangmu menjauh..
membuatku iri karenanya...

kini kau tau, 
cahaya itu merampasnya,
aku hanya kelebat tanpa bayang...

kini ku tau,
kau selalu menungguku, yang tak pernah tau waktu...
hingga dia melumatku dalam pasi ini,
mebuatku tak bisa lagi memelukmu,, Ibu ....


                Paradoks sendiri berarti, pandangan yang dinilai salah. Padahal ada kebenaran didalamnya. Atau bisa juga dibilang sebuah kebenaran yang di anggap keliru dan menggantikannya dengan kesalahan. Dan ironisnya,, kesaahan ini malah dianggap sesuatu yang benar. Mereka lupa dengan kata “umumnya” dalam kalimat ini. Dan menggantinya dengan “seharusnya”.

                Ini seperti jika ingin bahagia kau “harus” memiliki uang, jabatan, istri cantik, rumah mewah. Dan celakanya orang-orang selalu mengejarnya. Ayolah, ini bukan seperti kau mencari pengganti makan siang atau apapun. Bahagia tak bisa diganti dengan benda lain.

                Dan ketika kau sudah merasa “seperti” ini aku sudah bahagia. Hidup kecukupan, dapat membeli segalanya. Pada akhirnya, kita hanya mengukur sesuatu dengan ukuran uang. Kita lupa, masih ada segela sesuatu yang memang lebih berharga dari itu.

                Waktu, dapatkah kau membelinya? Apa yang kau kejar sekarang, apa yang kau usahakan sekarang. Apa hanya menjual waktu? Menjual sesuatu yang tak akan pernah kembali. Menyia-nyia kannya? Kita bisa membeli jam dengan harga yang paling mahal, yang mungkin beberapa tahun kemudia dia baru akan mengganti baterai-nya sekali. Atau kita inginkan sebuah menunjuk waktu yang dilapisi emas berlian? Katakan kita dapat memilikinya, tapi selanjutnya kita hanya bisa melihat waktu-waktu kita yang terbang meninggalkan kita. Seakan mereka melambai mengatakan perpisahan sambil tersenyum simpul.

                Rumah, apa arti sebuah rumah sebenarnya? Banguna? Tempat hunian? Ya, kita bisa membelinya. Maksudku, bangunannya. Dan hal-hal yang berbau lembaran-lembaran surah disana. Tapi pernahkah kau merasa kesepian disana?

                Kasih sayang, semua orang akan sangat bahagia dengan adanya kasih sayang. Karena kenyataannya, sebelum kita dapat berbicara, membaca, mehitung. Kita sudah dibesarkan dengan kasih sayang. Bukankah kita bahagia waktu itu?

                Sahabat. Jika kau mengatakan orang-orang yang berada disisi mu sekarang adalah sahabatmu. Katakan itu nanti ketika kau benar-benar terpuruk!

                Kehormatan, setiap orang ingin dihormati. Setiap orang ingin dihargai. Nilai kehormatan sendiri lebih luhur dari pada kehidupan. Seperti para pahlawan yang masih di hargai dan dihormati, walau mereka sudah menyatu dengan tanah, sekarang ini. Kita bisa memiliki jabatan tinggi dalam sebuah perusahaan. Atau gelar melimpah. Yang kita kejar mati-matian. Apa yang kita ingin raih? Kehormatan, respect. Tapi kadang kita lupa, sebuah kehormatan bukan ditunjukkan dari seberapa tinggi dia berada. Tapi seberapa dia bisa menghormati orang lain dan menjaga kehormatan dirinya sendiri. sebuah kehormatan akan memilih orang yang memang pantas untuk itu.

                Yang sebenarnya kita harapkan hanyalah, berkerja mencari nafkah. Pulang kerumah dan bertemu orang-orang yang kita sayangi.  Menjalani waktu-waktu dengan sahabat dan orang-orang yang kita sayang. Menjadi seseorang yang dihargai, menjadi seseorang yang berguna. Menjalani hidup dengan bahagia. J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar