Kulihat merah pipimu,
dan basah oleh air mata.
kulihat tatapanmu,
menerawang jauh kesana...
Bukankah kau memanggilku,
bukankah aku disini?
bukankah untuk menghiburmu,
mengharap ku disisi.
kini bulan mengusik mentari,
seperti ku yang tak bisa benahi.
semburat emasnya membawa bayangmu menjauh..
membuatku iri karenanya...
kini kau tau,
cahaya itu merampasnya,
aku hanya kelebat tanpa bayang...
kini ku tau,
kau selalu menungguku, yang tak pernah tau waktu...
hingga dia melumatku dalam pasi ini,
mebuatku tak bisa lagi memelukmu,, Ibu ....
Paradoks
sendiri berarti, pandangan yang dinilai salah. Padahal ada kebenaran
didalamnya. Atau bisa juga dibilang sebuah kebenaran yang di anggap keliru dan menggantikannya
dengan kesalahan. Dan ironisnya,, kesaahan ini malah dianggap sesuatu yang
benar. Mereka lupa dengan kata “umumnya” dalam kalimat ini. Dan menggantinya
dengan “seharusnya”.
Ini
seperti jika ingin bahagia kau “harus” memiliki uang, jabatan, istri cantik,
rumah mewah. Dan celakanya orang-orang selalu mengejarnya. Ayolah, ini bukan
seperti kau mencari pengganti makan siang atau apapun. Bahagia tak bisa diganti
dengan benda lain.
Dan
ketika kau sudah merasa “seperti” ini aku sudah bahagia. Hidup kecukupan, dapat
membeli segalanya. Pada akhirnya, kita hanya mengukur sesuatu dengan ukuran
uang. Kita lupa, masih ada segela sesuatu yang memang lebih berharga dari itu.
Waktu,
dapatkah kau membelinya? Apa yang kau kejar sekarang, apa yang kau usahakan
sekarang. Apa hanya menjual waktu? Menjual sesuatu yang tak akan pernah
kembali. Menyia-nyia kannya? Kita bisa membeli jam dengan harga yang paling
mahal, yang mungkin beberapa tahun kemudia dia baru akan mengganti baterai-nya
sekali. Atau kita inginkan sebuah menunjuk waktu yang dilapisi emas berlian? Katakan
kita dapat memilikinya, tapi selanjutnya kita hanya bisa melihat waktu-waktu
kita yang terbang meninggalkan kita. Seakan mereka melambai mengatakan
perpisahan sambil tersenyum simpul.
Rumah,
apa arti sebuah rumah sebenarnya? Banguna? Tempat hunian? Ya, kita bisa
membelinya. Maksudku, bangunannya. Dan hal-hal yang berbau lembaran-lembaran
surah disana. Tapi pernahkah kau merasa kesepian disana?
Kasih
sayang, semua orang akan sangat bahagia dengan adanya kasih sayang. Karena kenyataannya,
sebelum kita dapat berbicara, membaca, mehitung. Kita sudah dibesarkan dengan kasih
sayang. Bukankah kita bahagia waktu itu?
Sahabat.
Jika kau mengatakan orang-orang yang berada disisi mu sekarang adalah
sahabatmu. Katakan itu nanti ketika kau benar-benar terpuruk!
Kehormatan,
setiap orang ingin dihormati. Setiap orang ingin dihargai. Nilai kehormatan
sendiri lebih luhur dari pada kehidupan. Seperti para pahlawan yang masih di
hargai dan dihormati, walau mereka sudah menyatu dengan tanah, sekarang ini. Kita
bisa memiliki jabatan tinggi dalam sebuah perusahaan. Atau gelar melimpah. Yang
kita kejar mati-matian. Apa yang kita ingin raih? Kehormatan, respect. Tapi kadang
kita lupa, sebuah kehormatan bukan ditunjukkan dari seberapa tinggi dia berada.
Tapi seberapa dia bisa menghormati orang lain dan menjaga kehormatan dirinya
sendiri. sebuah kehormatan akan memilih orang yang memang pantas untuk itu.
Yang
sebenarnya kita harapkan hanyalah, berkerja mencari nafkah. Pulang kerumah dan
bertemu orang-orang yang kita sayangi. Menjalani
waktu-waktu dengan sahabat dan orang-orang yang kita sayang. Menjadi seseorang
yang dihargai, menjadi seseorang yang berguna. Menjalani hidup dengan bahagia. J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar