Happiness
Paradox...
Apa
itu Happiness Paradox?
Kebahagiaan.
Yap, kebahagiaan.
Kebahagiaan
adalah kunci sebuah kesuksesan, dimana dia akan mencapai kesuksesan itu dan dia
meluapkannya dengan kebahagiaan.
Lalu
apa kesuksesan itu? Kesuksesan adalah ketika seseorang telah mencapai apa yang
dia tuju. Atau bisa dibilang mendapatkan apa yang dia harapkan. Kebanyakan dari
kita akan menjawab Kebahagiaan adalah tujuan kita.
Lantas,
seperti apa kebahagiaan itu di raih?
Ada
yang mengatakan, “Jika kita sudah punya rumah sendiri”. ada juga yang bilang, “Anak-anak
yang ganteng, cantik, soleh, solehah. Berbakti kepada orang tua. Nurut.” Yang
di sana bilang” Kalo kita udah bisa punya mobil, beli benda-benda mewah.” Yang disana.
Iya , yang deket situ. Bilang, “ Kita bahagia kalo makan enak.”
Kita
akan bahagia dengan cara-cara seperti itu. Bukan semua dari kita, tapi
kebanyakan dari kita. Kita bekerja, mencari uang. Dari pagi sampai malam, dari
adzan subuh sampai adzan maghrib. Ada juga yang sampai adzan Shalat malam. Hanya
untuk uang. Dan ya, kita terjebak didalamnya. Lantas kita membeli motor, kita
bahagia. Dan kemudian kita ingin beli yang lebih bagus, kemudian ada yang
bilang “ Hari gini masih panas-panasan. Hujan kehujanan”. Maka kita akan beeli
mobil. Terus ada yang bilang “ Percuma punya mobil, parkir aja di halaman
orang, dipinggir jalan.” Lantas kita membeli rumah.
Tapi
ada juga yang rela menjual rumah hanya untuk membeli motor dan mobil. Itu semua
karena kita mencari kebahagiaan. Dan kita mendapatkannya. Kebahagiaan, rasa
senang dan gembira.
Lantas
kenapa kebahagiaan kita tidak bisa berlangsung abadi? Bukankah sebuah
kesuksesan, puncaknya adalah kebahagiaan? Merasa senang, dan ya.. ini dinamakan
puncak kesuksesan. Karena di titik ini kita sudah berhenti berjalan lagi, berhenti mendaki. Tapi kenapa? Kenapa kita
masih ingin menggapai puncak dari sebuah akhir?
Pertanyaannya,
dimanakah kita? Dimana kita sekarang?
Apa
jawaban kalian?
Kita
sedang menuju kesuksesan, seperti itu? Lantas apa itu kesuksesan? Apa jawaban
kalian?
Lucunya,
masih ada saja orang yang menjawabnya dengan kalimat-kalimat yang akan membawa
kita kembali ke awal.
Mendaki
lagi, dan jatuh. Mendaki, dan terjatuh.
Bahagia
itu sederhana. Tapi sebuah kesuksesan itu sukar.
Kita
dengan mudahnya bahagia. Dan kesuksesan, kita akan melampaui ribuah aral rintangan,
lika-liku.
Walau
kita sadar, sebuah kebahagiaan bukanlah sesuatu yang kita ambil dari pasar
saham, bunga Bank, atau diskon besar-besaran. Kebahagiaan sendiri adalah saat
kita bisa tersenyum dengan lepas, merasa tentram didalamnya. Dan tidak ada
seorangpun ingin kehilangan ini, maka dari itu. Kita juga perlu
mempertahankannya. Melindunginya dari tangan-tangan jahat. Tak semua orang
senang dengan cara yang sama, senang dengan kebaikan. Pasti ada sebuah kutu
dalam nasi, akan ada angin dalam tenang udara sore.
Mereka
tidak sepenuhnya jahat, manusiawi jika orang juga ingin merasakan kebahagiaan. Tapi
dalam hal ini mungkin mereka tidak mendaki dari tempat yang sama dengan kita, Tuhan menciptakan sebuah
parit berlumpur di beberapa tempat di kaki gunung. Dan sialnya, mereka
terperangkap disana.
Ini
bukan berarti sebuah kebahagiaan akan memiliki definisi yang berbeda karena
cara kita berbeda. Taukah kau? Sebuah gunung tetap saja memiliki sebuah puncak,
dan titik tertinggi tetaplah satu. Sama hal nya dengan kebahagiaan. Kita sama-sama
mendaki, mencari kebahagiaan tersebut.tapi rute, cara, jalan yang kita lalui
berbeda-beda.
Adakalanya
seseorang akan tewas dalam perjalanan itu, adakalanya kita tersesat dan malah
kembali ke awal, ada juga yang sampai dengan pengorbanan terlebih dahulu, ada
juga yang datang dengan mudah.
Dan
pada akhirnya, orang yang sudah mengetahui puncaknya, akan melihat dengan mudah
kebawah. Dia melihat jalan yang benar. Lalu apa yang terjadi? Mereka orang-orang
yang beruntung ini tidak akan melewati rute yang sama seperti sebelumnya. Karena
mereka tau, mana yang lebih baik dan mana jalan yang benar. Kemudian beberapa
waktu sesudahnya. Mereka berjalan kepuncak, dan kembali kebawah dengan mudah.
Lantas
apa itu Hapiness Paradox? Benarkah kebahagiaan itu mahal? Benar. Benarkah
kebahagiaan itu susah? Benar. Tapi, benarkah kebahagiaan itu mudah? Ya, benar.
Anda
akan bertanya kepada dir sendiri, kapan ketika anda bahagia? Dan apakah
kebahagiaan itu cepat pergi? Atau tanpa sesuatu itu, kita menjadi tidak
bahagia? Jawabannya singkat,, itu bukan bahagia secara benar.
Disinilah
istilah Paradoks akan muncul, kita yang sudah memiliki segalanya, kenapa tidak
bisa sebahagia meraka yang tidak memiliki apa-apa? Dan kenapa dari mereka ingin
menjadi seperti aku? Yang memiliki apa-apa tapi tidak bahagia?
Dalam
budaya kita, dogma-dogma berbau subjektif masih melekat dalam pikiran kita. Dan
ini tidak bisa di kendalikan lagi. Sifat-sifat subjektif ini mempengaruhi,
membiaskan kebenaran-kebenaran yang ada dalam masyarakat. Menggesernya hanya
dengan sebuah pendapat.
Kebahagiaan
adalah sesuatu yang tidak bisa kita beli, tapi kita dengan sengaja membelinya
dengan material. Apa yang terjadi? Dia tidak akan haqiqi, karena memang tidak
ada kebahagiaan dari sebuah materi. Kecuali kebahagia dalam kecukupan. Lagi-lagi
itu bukan bahagia yang kita bahas. Indikasi ini cenderung ke sebuah perasaan
tidak was-was karena kecukupan bahan makanan, dan lain-lain.
Jika
dibilang apa saja yang kita harus butuhkan, yang kita tidak bisa menghitungnya
dengan sebuah mobil mewaah, atau yang lain. Dalam kenyataannya kita lebih
memilih lapar karena sebuah materi dari pada kebutuhan kita.
Sandang-
Pangan- Papan atau hunian. Penuhi itu, maka kita akan muudah bahagia.
Hapiness
Paradox sendiri adalah, kebahagiann dengan cara yang sebenarnya tidak
memerlukan sebuah materi yang melimpah. Kita tidak perlu susah payah mencari
cara-cara buruk untuk hanya sebuah kata, Uang. Bahagia itu sederhana, tidak
perlu ambisi untuk mencapainya. Kita bisa bahagia dengan mudah, tidak semuanya
berkaitan dengan uang, atau semua yang berbau hedonisme. Setiap kita sudah
dibekali dengan senyuman, lantas kenapa kita menjualnya hanya demi mengejar
materi. Bahagia itu mudah, hanya kesuksesanlah yang memang perlu perjuangan. Dan
kita berhak berjuang disana. Tapi ingat dengan jelas, kita tidak perlu sukses
dalam hal materi untuk hidup bahagia. Karena ketika kau sudah berada di atas,
kau akan sangat rindu ke bawah. Berbaur dengan orang-orang, menikmatinya
bersama. Berbagi keceriaan dan senyuman kepada orang lain. J
dan kita tidak perlu menyendiri diatas sana. Bahagia tidak memerlukan uang,
kitalah yang perlu. Dan tidak perlu membeli segalanya, karena kebahagiaan
adalah segalanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar