Jumat, 07 November 2014

Bayang kecil dibalik semuanya...

      Tak terasa gelap pun jatuh,
            Di ujung malam, menuju pagi yang dingin,
Hanya ada sedikit bintang malam ini, mungkin karena kau sedang cantik- cantiknya...
            

            Alunan Jazzy memenuhi ruang pendengaranku. Menghanyutkan dalam damai dan tenang.
            Berjalan menyusuri setapak dengan kaki kurus dan lemah. Tujuh hari, kaki ini menempuh berkilo-kilo jalan berpaving hingga lumpur berbau busuk. Terlihat gulungan celana ini sudah penuh dengan debu dan lekatan coklat menghitam karena tak tersentuh busa deterjen dan air. Dan badanku, sudah terasa lengket. Pun dengan baju dan jaket berbahan jeans yang ku kenakan.
            Beristirahat? Tidak menurutku. Istirahat hanya membuatku tenang, dan kilasan-kilasan itu akan kembali menerkamku dalam lamunan. Yah, hanya berjalan, hanya berjalan. Aku akan lari dari itu semua, bayangan merah itu.
            Tak terdengar lagi lagu-lagu Payung Teduh, yang sepertinya baru tadi menemaniku. Dahiku berkerut, aku mulai sebal dengan semua ini. Ayah, ibu, saudaraku. Dan sekarang sebuah benda pemutar mp3 juga akan pergi dariku. Ku cabut sepasang earphone pada telingaku. Dan tangaku tanpa sadar memasukkannya ke dalam kantong celana. Aku terdiam.
            Terasa sangat kotor tanganku, sepertinya sudah kering. Beberapa waktu lalu kurasakan benda cair lengket memenuhi kantong ini. Hanya tersisa baunya. Walau ku coba masuk dalam sungai, baunya tidak hilang. Hanya perasaanku, atau memang tidak akan pernah hilang. Bau anyir itu, sepintas seperti melihat seringai mereka. Aku takut, benar-benar takut.
            Langkahku berhenti, sebuah warung. Ku coba secepatnya untuk melangkah lagi. Sebuah roti dan air mineral dingin, ku acuhkan uang kembalian yang seharunya menjadi hak-ku. Apa peduliku. Sepertinya tidak ada lagi hak untukku, setelah aku renggut dengan paksa hak mereka. Dan aku begitu saja lari dari kewajibanku.
            Senja dengan butiran cahaya berwarna emas. Angin sepoi dan teduh. Seharusnya aku berada disana, di loteng. Bersama buku-buku ku. Dan alunan musik itu. Seharusnya aku merasakan kenyamanan itu. Seharusnya...
            Bahkan, suasana seperti ini, aku sangat ingin merasakannya. Seharusnya begitu damai, seharusnya...
            Tapi, seperti hari-hariku akan dipenuhi ketidak nyamanan. Kedamaian itu seperti lenyap dan bahkan menjadi pisau yang menyayat leherku. Tapi, seperti musik-musik itu akan memekakkan telingaku hingga berdarah, darah....
            Aku akan terus berjalan, meskipun ini adalah hal terakhir yang bisa kulakukan. Jika bisa, aku akan berlari. Aku sudah melakukannya, kakiku terkilir karena itu. Di hari pertama, aku berlari tanpa henti. Kukira itu hanya bengkak biasa. Tapi, di hari kedua itu membuat jalanku tertatih.
            Kumandang adzan. Terdengar merdu. Tapi, mungkin aku tidak layak mendengarnya. Suara terakhir yang kunikmati hanyalah rintihan dan jeritan. Dan seperti itu lah seharusnya aku nanti. Seperti itulah aku nanti mati.
            Aku rindu mereka, orang tuaku. Aku rindu mereka, adik-adik kecil ku. Melihat senyum mereka, tawa mereka. Aku menngingat itu. Aku mengingatnya. Ah, bohong! Rasa bersalah itu menghapus keyakinanku, ingatanku kembali terisi tentang bayangan merah itu. Aku berteriak! Aku menangis, aku tertawa!. Kini satu-satunya yang ku ingat hanyalah wajah mereka tergeletak bersama kepala yang terpisah dari leher mereka.  Akulah yang melakukannya. Akulah orang itu. Akulah pembunuh itu... aku bahkan tidak sadar, aku bahkan menikmati itu. Sejak kapan psikopat menjadi karakterku. Sejak kapan?

            Jika bisa, satu-satunya yang ingin ku bunuh adalah kau, psikopat!

Selasa, 14 Oktober 2014

Simple Ending



Kulihat merah pipimu,
dan basah oleh air mata.
kulihat tatapanmu,
menerawang jauh kesana...

Bukankah kau memanggilku,
bukankah aku disini?
bukankah untuk menghiburmu,
mengharap ku disisi.

kini bulan mengusik mentari, 
seperti ku yang tak bisa benahi.
semburat emasnya membawa bayangmu menjauh..
membuatku iri karenanya...

kini kau tau, 
cahaya itu merampasnya,
aku hanya kelebat tanpa bayang...

kini ku tau,
kau selalu menungguku, yang tak pernah tau waktu...
hingga dia melumatku dalam pasi ini,
mebuatku tak bisa lagi memelukmu,, Ibu ....


                Paradoks sendiri berarti, pandangan yang dinilai salah. Padahal ada kebenaran didalamnya. Atau bisa juga dibilang sebuah kebenaran yang di anggap keliru dan menggantikannya dengan kesalahan. Dan ironisnya,, kesaahan ini malah dianggap sesuatu yang benar. Mereka lupa dengan kata “umumnya” dalam kalimat ini. Dan menggantinya dengan “seharusnya”.

                Ini seperti jika ingin bahagia kau “harus” memiliki uang, jabatan, istri cantik, rumah mewah. Dan celakanya orang-orang selalu mengejarnya. Ayolah, ini bukan seperti kau mencari pengganti makan siang atau apapun. Bahagia tak bisa diganti dengan benda lain.

                Dan ketika kau sudah merasa “seperti” ini aku sudah bahagia. Hidup kecukupan, dapat membeli segalanya. Pada akhirnya, kita hanya mengukur sesuatu dengan ukuran uang. Kita lupa, masih ada segela sesuatu yang memang lebih berharga dari itu.

                Waktu, dapatkah kau membelinya? Apa yang kau kejar sekarang, apa yang kau usahakan sekarang. Apa hanya menjual waktu? Menjual sesuatu yang tak akan pernah kembali. Menyia-nyia kannya? Kita bisa membeli jam dengan harga yang paling mahal, yang mungkin beberapa tahun kemudia dia baru akan mengganti baterai-nya sekali. Atau kita inginkan sebuah menunjuk waktu yang dilapisi emas berlian? Katakan kita dapat memilikinya, tapi selanjutnya kita hanya bisa melihat waktu-waktu kita yang terbang meninggalkan kita. Seakan mereka melambai mengatakan perpisahan sambil tersenyum simpul.

                Rumah, apa arti sebuah rumah sebenarnya? Banguna? Tempat hunian? Ya, kita bisa membelinya. Maksudku, bangunannya. Dan hal-hal yang berbau lembaran-lembaran surah disana. Tapi pernahkah kau merasa kesepian disana?

                Kasih sayang, semua orang akan sangat bahagia dengan adanya kasih sayang. Karena kenyataannya, sebelum kita dapat berbicara, membaca, mehitung. Kita sudah dibesarkan dengan kasih sayang. Bukankah kita bahagia waktu itu?

                Sahabat. Jika kau mengatakan orang-orang yang berada disisi mu sekarang adalah sahabatmu. Katakan itu nanti ketika kau benar-benar terpuruk!

                Kehormatan, setiap orang ingin dihormati. Setiap orang ingin dihargai. Nilai kehormatan sendiri lebih luhur dari pada kehidupan. Seperti para pahlawan yang masih di hargai dan dihormati, walau mereka sudah menyatu dengan tanah, sekarang ini. Kita bisa memiliki jabatan tinggi dalam sebuah perusahaan. Atau gelar melimpah. Yang kita kejar mati-matian. Apa yang kita ingin raih? Kehormatan, respect. Tapi kadang kita lupa, sebuah kehormatan bukan ditunjukkan dari seberapa tinggi dia berada. Tapi seberapa dia bisa menghormati orang lain dan menjaga kehormatan dirinya sendiri. sebuah kehormatan akan memilih orang yang memang pantas untuk itu.

                Yang sebenarnya kita harapkan hanyalah, berkerja mencari nafkah. Pulang kerumah dan bertemu orang-orang yang kita sayangi.  Menjalani waktu-waktu dengan sahabat dan orang-orang yang kita sayang. Menjadi seseorang yang dihargai, menjadi seseorang yang berguna. Menjalani hidup dengan bahagia. J

Senin, 13 Oktober 2014

Paradoksal Argument

            Happiness Paradox...




            Apa itu Happiness Paradox?



            Kebahagiaan. Yap, kebahagiaan.
            Kebahagiaan adalah kunci sebuah kesuksesan, dimana dia akan mencapai kesuksesan itu dan dia meluapkannya dengan kebahagiaan.
            Lalu apa kesuksesan itu? Kesuksesan adalah ketika seseorang telah mencapai apa yang dia tuju. Atau bisa dibilang mendapatkan apa yang dia harapkan. Kebanyakan dari kita akan menjawab Kebahagiaan adalah tujuan kita.
            Lantas, seperti apa kebahagiaan itu di raih?
            Ada yang mengatakan, “Jika kita sudah punya rumah sendiri”. ada juga yang bilang, “Anak-anak yang ganteng, cantik, soleh, solehah. Berbakti kepada orang tua. Nurut.” Yang di sana bilang” Kalo kita udah bisa punya mobil, beli benda-benda mewah.” Yang disana. Iya , yang deket situ. Bilang, “ Kita bahagia kalo makan enak.”
            Kita akan bahagia dengan cara-cara seperti itu. Bukan semua dari kita, tapi kebanyakan dari kita. Kita bekerja, mencari uang. Dari pagi sampai malam, dari adzan subuh sampai adzan maghrib. Ada juga yang sampai adzan Shalat malam. Hanya untuk uang. Dan ya, kita terjebak didalamnya. Lantas kita membeli motor, kita bahagia. Dan kemudian kita ingin beli yang lebih bagus, kemudian ada yang bilang “ Hari gini masih panas-panasan. Hujan kehujanan”. Maka kita akan beeli mobil. Terus ada yang bilang “ Percuma punya mobil, parkir aja di halaman orang, dipinggir jalan.” Lantas kita membeli rumah.
            Tapi ada juga yang rela menjual rumah hanya untuk membeli motor dan mobil. Itu semua karena kita mencari kebahagiaan. Dan kita mendapatkannya. Kebahagiaan, rasa senang dan gembira.
            Lantas kenapa kebahagiaan kita tidak bisa berlangsung abadi? Bukankah sebuah kesuksesan, puncaknya adalah kebahagiaan? Merasa senang, dan ya.. ini dinamakan puncak kesuksesan. Karena di titik ini kita sudah berhenti berjalan  lagi, berhenti mendaki. Tapi kenapa? Kenapa kita masih ingin menggapai puncak dari sebuah akhir?
            Pertanyaannya, dimanakah kita? Dimana kita sekarang?

            Apa jawaban kalian?


            Kita sedang menuju kesuksesan, seperti itu? Lantas apa itu kesuksesan? Apa jawaban kalian?
            Lucunya, masih ada saja orang yang menjawabnya dengan kalimat-kalimat yang akan membawa kita kembali ke awal.
            Mendaki lagi, dan jatuh. Mendaki, dan terjatuh.


            Bahagia itu sederhana. Tapi sebuah kesuksesan itu sukar.
            Kita dengan mudahnya bahagia. Dan kesuksesan, kita akan melampaui ribuah aral rintangan, lika-liku.
            Walau kita sadar, sebuah kebahagiaan bukanlah sesuatu yang kita ambil dari pasar saham, bunga Bank, atau diskon besar-besaran. Kebahagiaan sendiri adalah saat kita bisa tersenyum dengan lepas, merasa tentram didalamnya. Dan tidak ada seorangpun ingin kehilangan ini, maka dari itu. Kita juga perlu mempertahankannya. Melindunginya dari tangan-tangan jahat. Tak semua orang senang dengan cara yang sama, senang dengan kebaikan. Pasti ada sebuah kutu dalam nasi, akan ada angin dalam tenang udara sore.
            Mereka tidak sepenuhnya jahat, manusiawi jika orang juga ingin merasakan kebahagiaan. Tapi dalam hal ini mungkin mereka tidak mendaki dari tempat yang  sama dengan kita, Tuhan menciptakan sebuah parit berlumpur di beberapa tempat di kaki gunung. Dan sialnya, mereka terperangkap  disana.
            Ini bukan berarti sebuah kebahagiaan akan memiliki definisi yang berbeda karena cara kita berbeda. Taukah kau? Sebuah gunung tetap saja memiliki sebuah puncak, dan titik tertinggi tetaplah satu. Sama hal nya dengan kebahagiaan. Kita sama-sama mendaki, mencari kebahagiaan tersebut.tapi rute, cara, jalan yang kita lalui berbeda-beda.
            Adakalanya seseorang akan tewas dalam perjalanan itu, adakalanya kita tersesat dan malah kembali ke awal, ada juga yang sampai dengan pengorbanan terlebih dahulu, ada juga yang datang dengan mudah.
            Dan pada akhirnya, orang yang sudah mengetahui puncaknya, akan melihat dengan mudah kebawah. Dia melihat jalan yang benar. Lalu apa yang terjadi? Mereka orang-orang yang beruntung ini tidak akan melewati rute yang sama seperti sebelumnya. Karena mereka tau, mana yang lebih baik dan mana jalan yang benar. Kemudian beberapa waktu sesudahnya. Mereka berjalan kepuncak, dan kembali kebawah dengan mudah.


            Lantas apa itu Hapiness Paradox? Benarkah kebahagiaan itu mahal? Benar. Benarkah kebahagiaan itu susah? Benar. Tapi, benarkah kebahagiaan itu mudah? Ya, benar.
            Anda akan bertanya kepada dir sendiri, kapan ketika anda bahagia? Dan apakah kebahagiaan itu cepat pergi? Atau tanpa sesuatu itu, kita menjadi tidak bahagia? Jawabannya singkat,, itu bukan bahagia secara benar.
            Disinilah istilah Paradoks akan muncul, kita yang sudah memiliki segalanya, kenapa tidak bisa sebahagia meraka yang tidak memiliki apa-apa? Dan kenapa dari mereka ingin menjadi seperti aku? Yang memiliki apa-apa tapi tidak bahagia?
            Dalam budaya kita, dogma-dogma berbau subjektif masih melekat dalam pikiran kita. Dan ini tidak bisa di kendalikan lagi. Sifat-sifat subjektif ini mempengaruhi, membiaskan kebenaran-kebenaran yang ada dalam masyarakat. Menggesernya hanya dengan sebuah pendapat.
            Kebahagiaan adalah sesuatu yang tidak bisa kita beli, tapi kita dengan sengaja membelinya dengan material. Apa yang terjadi? Dia tidak akan haqiqi, karena memang tidak ada kebahagiaan dari sebuah materi. Kecuali kebahagia dalam kecukupan. Lagi-lagi itu bukan bahagia yang kita bahas. Indikasi ini cenderung ke sebuah perasaan tidak was-was karena kecukupan bahan makanan, dan lain-lain.
            Jika dibilang apa saja yang kita harus butuhkan, yang kita tidak bisa menghitungnya dengan sebuah mobil mewaah, atau yang lain. Dalam kenyataannya kita lebih memilih lapar karena sebuah materi dari pada kebutuhan kita.

            Sandang- Pangan- Papan atau hunian. Penuhi itu, maka kita akan muudah bahagia.

            Hapiness Paradox sendiri adalah, kebahagiann dengan cara yang sebenarnya tidak memerlukan sebuah materi yang melimpah. Kita tidak perlu susah payah mencari cara-cara buruk untuk hanya sebuah kata, Uang. Bahagia itu sederhana, tidak perlu ambisi untuk mencapainya. Kita bisa bahagia dengan mudah, tidak semuanya berkaitan dengan uang, atau semua yang berbau hedonisme. Setiap kita sudah dibekali dengan senyuman, lantas kenapa kita menjualnya hanya demi mengejar materi. Bahagia itu mudah, hanya kesuksesanlah yang memang perlu perjuangan. Dan kita berhak berjuang disana. Tapi ingat dengan jelas, kita tidak perlu sukses dalam hal materi untuk hidup bahagia. Karena ketika kau sudah berada di atas, kau akan sangat rindu ke bawah. Berbaur dengan orang-orang, menikmatinya bersama. Berbagi keceriaan dan senyuman kepada orang lain. J dan kita tidak perlu menyendiri diatas sana. Bahagia tidak memerlukan uang, kitalah yang perlu. Dan tidak perlu membeli segalanya, karena kebahagiaan adalah segalanya.

Jumat, 26 September 2014

Puisi Sabtu pagi

mendengar alunan itu, 
seperti ku terayun pelan akan Lamunan..

masih ku ingat dalam saat, 
hangat merasuk rongga dada...
masih tersirat beberapa sebab, 
ku menyayangimu apa adanya...

saat pagi berembun, 
dingin dan lembab,
kuingat canda ketika tawa dan senyum berhias sesaat,
beberapa saat, hanya sesaat,

sesaat, 
Hingga ku terdiam hingga kini...
kosong dan sepi,

hingga kini,
Lamunan ku berujung dalam puisi sabtu pagi..

raut langit tak juga berubah,
selalu terlihat sedih disisi ini,
seakan tak terjamah senyum mentari,
Hingga Kini,

seperti hati ini,
dermaga lembab dan sepi, 
seperti hari ini,
di sabtu pagi..dengan alunan kicau bersama tari,

ku sadar hingga kini,
sepertinya dunia, hanya aku yang merana..
kulihat semua ceria,
kulihat bahagia semua fana,
seperti bunga, hewan, dan manusia..

lantas aku bertanya, apa itu kesedihan?
mereka membalas dengan riang,
aku tersnyum,
sabtu pagi dalam Lamunan,


Sebenarnya jika kalian pikirkan benar-benar. Apa yang membuat kalian jatuh bersedih? Apa kalian merasa perlu untuk bersedih? Sepenting apakah itu? Lebih pentingkah dari senyum bahagia orang-orang yang kalian sayang?

Setiap kita, memiliki hak untuk bersedih, tapi kita juga berhak untuk bahagia. Jangan lupa, Something happen for a reason. Dan kita yang berkewajiban mencari tahu, apakah arti kita dalam hal ini. Pertanyaanya sekarang hanyalah, "Mampukah kau menjalani ini semua? Mampukah kau menghadapi ini semua? Seberapa lemah kau?".

Aku rasa Tuhan tidak menciptaptakan kita sebagai makhluk yang lemah. Dan Tuhan bukanlah Dzat yang kejam. Ingat seberapa sayang Dia terhadap kita, adalah ketika seberapa sering Dia memberikan ujian terhadap kita. Dan seberapa sayang kita terhadap-Nya, adalah ketika seberapa sering kita menghadapi ujian-Nya.

"Not something good happens to make you smile , but your smile that makes something good happens." -Seorang Kawancut-

Sabtu Pagi dalam Lamunan. Menjadi rupawan dalam bayang. 

Rabu, 24 September 2014

Apa aja deh mbloo

      Kata, kata dalah sebuah sebuah dasar dalam ucapan. Kata bisa menjadi indah atau buruk, tergantung bagaimana cara kita mengucapkan. Ini seperti sebuah bahan masakan, masakan adalah olahan bumbu dan bahan-bahan inti pada masakan itu. Sedap atau tidak, itu tergantung seperti apa kita mengolahnya, benar, tepat atau tidak kita mengkomposisikan bumbu, tepat atau tidak kita membuat adonan, serta tepat atau tidak waktu kita memasukkan bahan satu dan yang lain.
Seperti halnya kata, mereka juga akan indah jika kita menempatkan tambahan hiasan yang tepat pula.

Katakan pada bulan, bahwa aku jatuh hati pada serigalanya...
Katakan pada matahari, hatiku takluk pada singanya,

Ku katakan padamu, ragaku roboh olehmu,
Angkuhmu begitu, tak bisa hingga membisu...
Kau tutup pendengaranmu, kau buta terhadapku,

Tidak bisakah kau tatapku sekejap?
Tak bisakah katakanku sekecap?
Tak bisa kau dengar sesaat?

Karenamu, puisiku pun tak terdengar indah seperti dulu...
               
      Kembali lagi menulis, bukan untuk menjadi seseorang yang merasa pintar dalam hal menulis. Karena obsesi. Bukan, bukan obesitas, gue aja kurus kering. Mungkin kalian akan bingung, sebenarnya nih orang nulis apaan? Ga jelas, dan sok puitis.
      Jawabanya singkat : karena emang gue orang yang cerewet, dan suka cerita ama orang lain.
      Tapi orang udah ga peduli deh, gue mau cerita apa. Ga bakal ada yang betah dengan orang cerewet kaya gue. Kecuali jika dia sahabat terbaik gue. Aneh ga sih? Sahabat? Sahabat adalah teman terbaik. Lantas, jika sahabat yang artinya teman terbaik ini di tambah lagi penekanan pada kata terbaik. Lagi. Dan artinya dia adalah orang yang akan menerima gue apa adanya.
      Gue punya banyak temen baik, banyak. Jika kalian bayangin temen-temen baik gue adalah orang yang cuman istilah “say hello” doang. Kalian salah. Mereka orang-orang yang dipilih Tuhan, Sang Maha Pencipta. untuk berada dalam tali takdir gue. Melakukan hal bersama dan tetap dalam tali takdir hingga kini.
      Dan anggap saja kalian paham, kalo gue juga punya sahabat terbaik. Namanya ga perlu disebutin sih, kebanyakan temen gue cowok dengan nama ke cewek-cewek an. Tapi asli, mereka gentle tanpa ada tanda distorsi pada sifat laki mereka. Serius.
      Tapi kali ini gue ga bahas temen-temen gue. Termasuk aib-aib mereka. Ada yang suka ngupil, ada yang suka dandan, ke salon, hang out, nongkrong di Mall. Itu bukan temen gue banget, kecuali bagian upilnya. Nongkrong mereka tuh di mesjid bro, serius. Ya biasalah, ngaji, dzikir, meni pedi, luluran, nyalon, make up, sulam alis, ngeritingin bulu ketiak, cabutin bulu kaki. Bzzzzzz....
      Di bilang gue suka banget cerita. Entah kenapa tangan gue ga mau berhenti nulis. Nih kan tetep aja nulis. Oh God...!!
      Setelah... anggap aja tahun lalu. Gue kerja di sebuah perusahaan dengan label Mold maker, sekarang perusahaan trafo factory, dan akan menjadi sebuah perusahaan pembuat trafo terbaik sedunia. Tapi naas nya gue masih belum ngeh dengan pekerjaan gue. Menjadi apa dan di bagian apa gue sekarang. Yah, yah.. gue kerjain apa aa yang bisa gue kerjain, gue belajar apaa yang ingin gue pelajari. Belajar dan di gaji, seperi itulah gue sekarang. Dan jika seseorang tanya “mau nerusin kuliah ga mas?”. Gue cuman bisa bilang” selama bisa saya pelajari secara otodidak, ga perlu lah kuliah.”
      Lagian kuliah mahal bro, bukan cuman sekolah aja yang diperlukan, keahlian juga. Gue cuman masih bingung, belajar arsitektur dan sipil secara otodidak itu susah bro. Ga kaya sotosop, pemograman, Ms Word, ecxel, dll... jadi gue masi berusaha membaca sebanyak-banyaknya apa yang ada, download apa aja yang dibutuhin. Dan berusaha mencari tau fakta dibalik sebuah kontruksi. Ga tanggung – tanggung, gue baca buku-buku arsitektur berbahasa Inggris. Biar greget pusingnya.


                Sekian dari gue. Ga mutu kan postingan gue, nah itu lah masalahnya...



Sabtu, 21 Desember 2013

Gethux Tiwoel Xtreme: Tidak ada yang nyata dalam hidupPernah kau meras...

Gethux Tiwoel Xtreme: Tidak ada yang nyata dalam hidup

Pernah kau meras...
: Tidak ada yang nyata dalam hidup Pernah kau merasa setiap detik dalam hidupmu bagai kepalsuan yang nyata, bukan lagi kenyataan yang ...
Tidak ada yang nyata dalam hidup


Pernah kau merasa setiap detik dalam hidupmu bagai kepalsuan yang nyata, bukan lagi kenyataan yang benar-benar.

Pelangi yang hanya akan timbul dalam cerca cahaya,
menyorot deras air mengembun, 
tertiup angin diantara awan putih dan abu
menyatu tutupi jengkal demi jengkal warna azura,

sepintas dan hanya dalam kedipan..
menghilang indahnya bersama putaran bumi,
begitu juga awan..
menjauh dari metari dan menghangatkan padi-padi,

sisipkan dan meresap pada selah-selah
untaian biji-biji putih,
kekuningan dan menundukkan pandangannya,

Saya bukan orang pintar dalam merangkai kata, saya bukan kutu buku yang seharusnya lebih pantas menjadi seorang penulis. Trus, di sebut apa seharusnya saya? mungin orang sok pamer, hahahaha.. maybe xD

Pernah saya mikir, kalo kerja ngapain harus pake tittle panjang ama ijazah? *I don't know what ur talking about dud..!!

Dan banyak juga yang bilang gitu sama saya, entah kenapa menurut saya sekolah itu bukan buat nyari kerja. Logikanya "Kamu mau kerja, trus ngandelin Ijazah. Padahal belum tentu tuh ijazah hasil nilai kamu murni". Dengan kata lain, itu sebuah konspirasi dalam kehidupan yang menjadi kebiasaan dalam masyarakat. "Kita pingin kerja, dan kita pake ijazah ga asli, tapi asli". Bingung?

Apalagi kita makan pake uang hasil menipu itu, bukannya haram ya?

Menurut saya sih, belajar, sekolah, pengetahuan, dan mencari ilmu adalah tugas mulia umat manusia. Bukan lagi kebutuhan tapi hak kita sebagai manusia, dan satu lagi. Kita bertugas menjalankan, mempraktekkan apa saja yang kita dapat untuk kepentingan bersama. 

"Ngapain juga saya perduli mereka?, kenal aja engga". Banyak juga kata-kata seperti itu masuk dan menikam gendang telinga saya. 

Ketakutan akan rasa tidak mendapatkan apa-apa dan rasa keegoisan manusia yang masih tinggi, penyebab tambah terpuruknya moral bangsa. Hal ini bukan hanya terjadi di kota-kota yang disebut besar, memang besar. Tapi tidak cukup besar untuk menampung manusia seluruh negri ini.

Gini, saya jelasindari  pertama. Jikalau orang pingin berkarya, kenapa juga musti sekolah?, dan jawabannya adalah, biar gampang masuk kerjanya. Dengan kata lain, kita menggunakan ijazah sebagai senjata untuk bekerja dalam lingkup kantor dan perusahaan. Di sisi lain, ilmu yang seharusnya kita dapat sewakttu belajar dalam sekolah malah tersudutkan dalam presepsi ini. Mereka yang berfikir bahwa yang terpenting adalah ijazah itu sendiri menganggap bahwa, kenapa belajar pintar-pintar?, karna kita ga bakalan gunain logaritma, aritmatika, Aljabar, sampai ke hukum Aristoletes, dan hukum kekekalan energi dalam kehidupan sehari-hari.

Memang itu tidak bakal dijumpai dalam kehidupan biasa, tapi dalam level tertentu memang digunakan. Hanya bagi mereka yang sadar ilmu saja yang tahu arti pentingnya pelajaran-pelajaran itu.

Manusia berpemikiran awam hanya akan jadi manusia awam, manusia berpemikiran biasa hanya akan menjadi manusia biasa, dan manusia yang luar biasa memiliki pemikiran yang luar biasa pula. Bukan berarti mereka harus hapal rumus-rumus fisika, kimia, atau matematika. Tapi mereka yang dapat menerapkan pengetahuannya dalam kehidupan sehari-hari.

Banyak mereka yang katanya lulusan luar negri, atau pondok pesantren, atau yang lebih nge-jreng, lulusan Wammy's House(dalam serial anime Death Note) atau lembaga Pendidikan Dokter Charles Xavier. Kalau mereka memiliki moral rendahan, tak berguna semua ilmu dan gelar yang dia miliki.

Dan ada kalanya kita menilik semua penjuru negri ini. "Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya", peribahasa ini mungkin harus ditambahi dengan ungkapan "Pohon tidak akan tumbuh tanpa akar". Korupsi, nepotisme, kolusi. Makanan kehari-hari kita, walau bukan seorang penjabat kita pasti melakukannya. Kemungkinan 75% dalam waktu kita. Hanya kita tidak sadar telah melakukannya, sifat-sifat seperti ini akan menjadi kebiasaan yang suit dihilangkan, dana sudah mendarah daging. Akar yang kuat akan menjaga pohonnya, dan pohon yang kuat akan menjaga hijau hutannya.

Akar ini adalah ungkapan bagi rakyat, pohon adalah pejabat danhutan adalah negri ini. Sesuatu itu akan bermula dari bawah keatas. Banyak yang tidk sadar melakuakan sesuastu tapi masih bisa mencela orang lain, itulah peribahasa semut dan gajah yang berada di pelipuk mata dan seberang sana.

Ngmong-ngomong soal mata, indra penglihatan ini adalah alat terhebat dari setan setelah hati nurani. Kenapa begitu?, karna dengan ini kita melihat dunia, kejamnya, keindahanya, busuknya, mendung, cerah, hingga bayang yang setiap hari mengikuti kita.

Tapi semua itu palsu, manusia hanya diberi penglihatan tentang apa yang bisa dilihat. Itulah manusia, hanya menganggap ada karena melihatnya, tapi anehnya mereka lebih mempercayaai roh dari pada Tuhan. Keberadaaan sesuatu tidak hanya ditilik dari sesuatu yang bisa dilihat saja, atau dinalar, jika hanya itu. Maka Tuhan yang Maha Kuasa memang tidak bisa di bayangkan. Karena Dia Maha Kuasa. 

Kapan kita memiliki sesuatu, kapan kita mendapat sesuatu. itulah pertanyaanya sekarang. Tapi, jangan lupa dengan pertanyaan, "Kapan kita benar-benar memiliki sesuatu, Apa kita Pernah memiliki sesuatu? itulah yang seharusnya kita jawab dan pikirkan.

Kapan sesuatu yang kita miliki ini hilang?, kapan itu akan meninggalkan kita?.-


Salam Kenal,